Akhirnya Vacuum Cleaner
Punya vacuum cleaner atau alat penghisap debu sudah aku bayangkan sejak awal berumah tangga. Alasannya, vacuum cleaner efektif untuk membersihkan debu-debu tebal tanpa membuatnya berterbangan dan bikin bersin. Namanya juga penghisap debu. Tentu aku memberi alasan ini karena aku punya pengalaman dengan vacuum cleaner.
Di rumah Jogja dulu, kami punya vacuum cleaner. Kurasa dibeli setelah rumah sudah direnovasi, saat aku masih SMA. Warna merah, merek National. Bentuknya semacam bulat-oval dengan roda dan kabel panjang sehingga bisa ditarik-tarik mengikuti kebutuhan. Aku menggunakannya untuk membersihkan debu-debu tebal secara berkala.
Saat sudah memiliki rumah sendiri, terpikir untuk membeli vacuum cleaner. Waktu itu, internet belum banyak digunakan untuk browsing dan membandingkan produk. Seingatku malah belum marak market place seperti sekarang. Baru ada situs berjualan antar pribadi, dengan rekening pribadi, dan didasarkan saling percaya.
Aku tidak banyak mencari tahu sebelum memutuskan membeli vacuum cleaner kecil dan handy di sebuah toko peralatan rumah. Sebetulnya bagus-bagus saja. Tetapi jika aku membandingkan dengan pengalaman vacuum cleaner sebelumnya, tentu yang ini kalah jauh dari segi harga dan kenyamanan saat memakainya. Dengan harga yang mungkin hanya seperempatnya atau bahkan lebih kecil lagi (waktu itu memang duitnya terbatas, sih), tentu aku tidak bisa banyak berharap. Ngga nagih untuk memakai dan memakai lagi. Akibatnya, vacuum cleaner itu lebih banyak tersimpan di lemari.
Saat rumah sudah direnovasi dan kini memiliki lebih banyak ruang yang harus dibersihkan, lagi-lagi aku membayangkan punya vacuum cleaner. Memang harus kuakui kalau menyapu dan mengepel, berikut membersihkan furnitur dari debu yang menempel, termasuk pekerjaan rumah yang aku paling malas melakukannya. Lucu ya, padahal di Jogja, Mama bisa menyapu rumah lebih dari dua kali sehari.
Dengan rumah yang punya cukup banyak ventilasi dan jendela yang hampir selalu terbuka, tentu rumahku jadi lebih mudah berdebu. Dodi kadang-kadang ikut menyapu kalau liat lantai sudah kelewat kotor. Tapi dia bukan orang yang sensitif sama debu dan ngga ada perasaan apa-apa menginjak lantai yang ngeres. Jadi kategori kotornya, masih di bawah kategoriku.
Kami (aku, sih maksudnya) juga menciptakan "solusi" biar ngga perlu sering-sering menyapu, yaitu memakai sandal rumah di lantai satu yang lantainya berupa semen tanpa ubin. Untuk lantai atas yang berubin granit, aku berinovasi dengan membasahi sapu sebelum dipakai agar debu-debu tidak berterbangan. Cara-cara ini lumayan efektif dan membuatku tidak terbebani untuk lebih sering menyapu.
Dua tahun lalu, aku mulai ngincer robot vacuum cleaner. Kupikir pasti akan menyenangkan. Aku cuma perlu memencet tombol atau bahkan tinggal menyeting untuk pembersihan berkala, maka si robot yang akan membersihkan debu-debu di lantai. Bahkan belakangan, robot vacuum cleaner juga dilengkapi kemampuan mengepel lantai. Membayangkan aku bisa tidur-tiduran sementara ada robot yang sedang menyapu dan mengepel rumah sungguh menyenangkan. Maka akupun mulai mempelajari beberapa merek, membaca review, dan membandingkan satu sama lain. Makin ke sini, makin canggih aja. Tapi butuh waktu lama untuk memutuskan. Maju-mundur beberapa kali, selain juga karena mesti nabung-nabung supaya bisa sekalian beli yang bagus.
Lalu tahun ini kami punya rejeki lebih. Proposal pertama yang kuajukan untuk disepakati bersama tentulah sebuah vacuum cleaner. Dodi oke-oke aja. Tiba saatnya memilih, aku justru galau. Pertarungan batin terjadi untuk menentukan apakah mau tetap robot vacuum cleaner atau yang berupa stick tanpa kabel. Stick vacuum cleaner ini sedang popular belakangan. Biasanya bagiannya bisa dilepas-lepas sehingga bisa jadi handy vacuum cleaner yang bisa digunakan untuk membersihkan sofa, dinding, dan lain-lain. Bahkan, beberapa merek mengeluarkan produk yang bisa sekalian mengepel. Dengan pertimbangan multi fungsi ini, akhirnya aku memilih vacuum dengan model stick.
Pertarungan kedua, adalah memilih mereknya. Ada satu merek yang sempat jadi incaran karena bentuknya yang bagus dan warnanya putih, rasanya akan lebih cocok untuk jadi bagian dari rumah. Buatku, visual sangat penting. Bahkan saat akan membeli ember pun aku punya pertimbangan visual atau tidak jadi beli.
Merek-merek baru sangat menarik model dan tampilannya. Harganya juga relatif murah. Apalagi banyak influencer yang meng-endorse-nya. Tapi akhirnya aku mempertimbangkan faktor layanan purna jual. Aku akhirnya memilih merek Philips (selain karena vacuumnya dilengkapi pel) karena aku pernah punya pengalaman didatangi staf service center-nya saat menyampaikan keluhan mengenai rice cooker yang baru kubeli. Mereka mengambil dan mengantarkannya kembali setelah selesai diperbaiki. Gratis. Aku sangat menghargai itu.
Nah, pertarungan batin yang sesungguhnya adalah memastikan apakah aku benar-benar membutuhkan alat ini di rumah. Jangan sampai nantinya cuma teronggok di pojokan saja. Tidak jarang juga galau menyalahkan diri sendiri yang pemalas, masa nyapu-ngepel aja ngga sanggup, memangnya nanti kalau pakai vacuum ngga males lagi? Dan, tentu pertanyaan ini tidak akan terjawab sebelum betul-betul menjalaninya... hehehe...
Pertama, tentu kita harus menyadari bahwa mengalihkan metode bebersih dari alat sapu dan pel manual ke mesin sebetulnya tidak lebih mudah. Lain alat, lain cara, lain konsekuensi, begitu kurang lebihnya. Aku memutuskan untuk fokus pada karakter rumah yang menyebabkan debu, aku yang gampang bersin kalau kena debu, tapi juga terlalu malas untu bebersih. Dengan pertimbangan ini, aku memilih vacuum cleaner dan tentu saja konsekuensi yang menyertainya.
Kedua, namanya mesin buatan manusia, tentu tidak akan seteliti kita dalam bebersih. Seperti kita yang masih mengucek noda di serbet meski sudah dicuci dengan mesin cuci, begitupun vacuum cleaner. Mesin ini tidak bisa mengatasi noda-noda kering di lantai, misalnya bekas darah nyamuk. Tetap butuh usaha kita untuk mengusapnya agar bersih. Dalam hal ini, (untungnya) standarku tidak terlalu tinggi, sama ketika aku mencuci dengan mesin... :D Sekali lagi, yang lebih penting buatku adalah kenyamanan saat bebersih. Ngga bersin, ngga pusing liat debu yang terbang-terbang. Dengan alat yang (menurutku) bisa menyedot debu sampai lebih dari 90%, tentu aku sudah sangat bersyukur.
Kita semua tahu, bahwa pekerjaan rumah tidak ada habisnya. Alat-alat ada untuk mempermudah, ini yang harus dipastikan karena banyak juga alat yang diciptakan hanya agar kita membelinya. Bisa jadi karena alatnya memang buruk, atau kita yang tidak cocok atau tidak siap menerima konsekuensinya. Tidak kalah penting adalah perasaan bahagia saat bebersih! Selamat membersihkan rumah!



Comments
Post a Comment