After Marie (Marie and Me #2)
Bisa dibilang, buku Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up adalah satu dari jarang sekali buku yang berpengaruh panjang buatku. Lebih dari itu, informasi di dalamnya dapat langsung diterapkan di rumah.
Membereskan rumah (padahal cuma lemari pakaian) hanyalah salah satu hasilnya yang sampai sekarang membuatku kagum pada diri sendiri. Kagum karena lemari pakaian setelah sekian lama, tingkat berantakannya paling hanya 20%. Selebihnya masih dalam tatanan. Aku sudah menemukan cara untuk membuatnya tetap rapi, yaitu dengan melipat pakaian langsung dari hanger jemuran baju --tentu dengan lipatan konmari, aku melakukannya di atas kasur di kamar sehingga mau tidak mau pakaian langsung masuk ke lemari paling lama sebelum mau tidur malam. Artinya, tidak ada lagi namanya tumpukan pakaian transit di tempat lain yang menambah tumpukan di rumah.
Tadinya, aku berencana membeli kotak-kotak kecil untuk ditaruh di rak penyimpanan pakaian supaya aku bisa menata lipatan pakaian secara berdiri ala konmari. Sudah berhitung ukuran supaya efisien, pas dengan panjang rak penyimpanan pakaian, lalu memesan ke sebuah situs belanja alat-alat rumah. Untungnya, aku salah memilih metode pembayaran sehingga pemesanannya keburu hangus. Lalu sebelum sempat memesan lagi, aku mempertimbangkan tingkat berantakan lemari yang hanya 20%, aku pun merasa tidak perlu lagi menaruh pakaian dalam kotak-kotak. Apalagi aku ingat tulisan Marie di akhir bukunya, agar kita juga jangan mudah tergoda dan membeli barang-barang tempat penyimpanan.
Buat apa punya banyak tempat penyimpanan, termasuk lemari, jika isinya barang-barang yang tidak ingin kita lihat. Dengan kata lain, kita cuma menyimpan atau menyembunyikan barang-barang yang sebetulnya tidak kita perlukan lagi sementara barang-barang yang kita gunakan sehari-hari bertebaran di rumah. Ini salah. Bisa jadi barang-barang yang buat kita tidak berguna akan dapat bermanfaat bagi orang lain.
Tapi mengeluarkan sekian banyak barang-barang yang 'tidak berguna' atau memang 'sudah tidak dapat digunakan' menghasilkan pemikiran baru buatku. Sebegini banyaknya kah kita nyampah?
Tulisan Marie memang tidak sampai ke sini. Tapi setelah membaca bukunya, aku tergerak untuk mencari lebih banyak informasi. Apalagi di waktu yang hampir bersamaan, aku juga tertarik dengan isu-isu fast fashion yang menghasilkan sampah tekstil. Trend fashion yang cepat berganti membuat isi lemari juga cepat berganti. Dan faktanya buangan pakaian dan tekstil lainnya di TPA, 95%-nya masih bisa digunakan atau didaur ulang. Padahal sampah tekstil bisa dikategorikan mengandung bahan berbahaya karena umumnya melalui proses kimia yang panjang, pun jika itu menggunakan serat alami seperti katun atau bambu.
Ada satu logika yang menarik mengenai itu, yang kurasa kita bisa perluas konteksnya tidak hanya untuk pakaian saja: saat kita akan membeli sesuatu, jangan cuma pikirkan bagaimana kita akan memakainya tetapi juga bagaimana barang itu nantinya akan berakhir? Dari sini kita bisa memulai memilah apa yang akan kita beli.
Dan kesimpulan yang lebih besar lagi terkait kerapihan rumah, bahwa yang membuat rumah kita berantakan adalah barang-barang yang kita beli dan bawa ke dalam rumah. Semakin kita konsumtif, semakin banyak memiliki barang, semakin banyak yang perlu dibereskan. Sungguh kesimpulan yang menarik dan bijaksana. Hahahaha...
Kesimpulan berikutnya, membereskan rumah dengan membuat apa yang 'sudah tidak kita butuhkan' bukan solusi kalau kita terlalu giat membeli. Kita hanya akan memindahkan tumpukan dari dalam rumah ke luar. Syukur-syukur menjadi manfaat buat orang lain, tapi bukan tidak mungkin barang yang kemudian kita keluarkan terlalu banyak dan membebani orang lain, membebani rumah orang lain, membebani bumi.
Sekarang menurutku bukan cuma fast fashion, tapi juga fast furniture and home decor. Salah satunya dimungkinkan oleh instagram. Ya, selain foto-foto OOTD, di instagram juga banyak yang posting foto-foto rumahnya, baik yang memang didesain bagus maupun yang ikut-ikutan. Tapi itu sungguh seperti cerita-cerita orang dulu, yang katanya suka iri kalau liat tetangga beli sofa, beli rice cooker dan lain-lain. Sekarang, ngga perlu ngintip tetangga, cukup instagram aja. Gayung ini disambut oleh toko-toko furniture dan pernik rumah yang juga memanfaatkan instagram untuk jualan. Lalu, makin banyak juga orang-orang yang jualan barang second-nya di instagram. Pertanda mereka sudah memiliki barang baru penggantinya. Fast enough, ya?
Aku punya masanya sibuk stalking-stalking instagram orang yang pasang foto dekorasi rumah bagus-bagus, follow dan difollow penjual online, punya wish list di web ikea, bikin daftar panjang wish list yang ditempel, dan beli ini itu untuk rumah. Aku memutuskan untuk stop, beberapa waktu setelah baca buku Marie Kondo. Oke, kalau mau rumah rapi harus pikirkan betul-betul saat mau beli sesuatu. Itu saja.
Ada beberapa hal yang bisa aku kendalikan. Ada beberapa yang lain, aku anggap bonus, yang sulit. Tapi setidaknya aku berpikir panjang. Satu lagi cara memilah adalah mengenali betul diri sendiri, apa yang benar-benar kita suka, bukan cuma ikut-ikutan trend saja. Menemukan karakter diri sendiri dan membatasi konsumsi berdasarkan itu.
Ah, tulisan ini menggurui sekali!

Comments
Post a Comment