[musim corona] Hijrah: Kisah Kembali ke "Rumah"
Away is fine. But home is the best.
Tiba-tiba teringat lagi pepatah Swedia ini. Pada saat dunia menghadapi pandemi, aku memaknai kembali pepatah itu. Corona telah mengubah dunia kita. Kini, being away ngga ada fine fine-nya. Cari penyakit, kata banyak orang. Covidiot.
Aku memutuskan untuk di rumah saja sejak 15 Maret 2020, setibanya aku dari Jambi. Dodi masih ada penugasan ke Bogor dan menyusul tinggal di rumah lima hari setelahnya. Lalu kami sama-sama memutuskan untuk tidak ke mana-mana. Buatku ini menyenangkan, bisa bersama-sama Dodi. Berdua saja untuk waktu yang panjang, tepat seperti harapan yang aku ucapkan menjelang tahun baru 2020: ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Dodi setelah kami banyak berjauhan di tahun sebelumnya. Selama tahun 2019, aku banyak melakukan perjalanan dan Dodi juga sering bolak-balik ke Kudus. Bagaimanapun, aku sungguh bersyukur untuk kebersamaan kami 24 jam sehari selama berbulan-bulan.
Untung sekali kami telah membicarakan pandemi pada minggu pertama tinggal di rumah. Bagaimana protokol kesehatan di rumah, stok logistik, jadwal belanja keluar rumah, dan lain-lain. Kami juga bersepakat bahwa kami harus tetap lucu, tetap ketawa. Kesepakatan ini membuat hari-hari berikutnya semakin ringan dan bahkan menyenangkan. Berkualitas.
Kami melakukan banyak hal bersama: olah raga, berkebun, membersihkan rumah, dan lain-lain. Melewati banyak kejadian rutin dengan cara baru: ulang tahun Dodi, puasa, Idul Fitri, Idul Adha. Hingga lima bulan berikutnya, saat Dodi harus kembali bekerja. Bagaimanapun rejeki harus disyukuri. Dan masih untung juga Dodi tidak kerja kantoran di Jakarta, melainkan ke Kudus yang berarti menjauh dari episentrum pandemi.
Lalu aku di rumah sendirian.
Untuk seorang introvert, aku tidak keberatan. Maka, "me time" pun dimulai. Belanja online, maraton drama Korea, masak dan cuci piring sesuka hati, selain webinar dan zoom meeting dengan teman-teman Sokola.
Ini bukan kali pertama aku ditinggal Dodi untuk waktu yang panjang, tetapi ini pertama kalinya aku sendiri dan tidak ke mana-mana saat ditinggal Dodi ke luar kota. Temanku hanyalah si Maung dan tanaman-tanaman di rumah. Bersosialisasi cuma dengan Mang Koko tukang sayur dan Pak Satpam. Sesekali bersepeda ke minimart untuk belanja cemilan. Saat itu, zoom meeting dengan teman-teman dekat dan telfon dari Dodi terasa sungguh membahagiakan karena aku benar-benar bisa tertawa lepas.
Seminggu, dua minggu, sebulan, hingga dua bulan. Sampai akhirnya aku merasa ini akan menjadi tidak baik buatku. Tidak sehat. Sampai di sini, sebetulnya aku merasa baik-baik saja dengan adanya tivi dan wifi di rumah. Tetapi aku merasa akan tidak baik-baik saja kalau terus-terusan sendiri. Dan sejujurnya, aku merasa begini karena banyak nonton drama Korea, ditambah hujan dan rindu, membuat aku jadi mellow. Akhirnya aku memutuskan untuk "pulang" ke Jogja. Ada Mama, Karin, Mas Sinang, ipar-ipar, dan keponakan-keponakan di Jogja. Selain itu, akan lebih mudah juga untuk ketemu Dodi. Jogja-Kudus hanya berjarak lima jam.
Pada akhirnya, aku kembali menyadari bahwa "rumah" adalah kehangatan yang dibangun bersama oleh para penghuninya. "Rumah" adalah pelukan dan ketawa bersama. Home is where the heart is.



Comments
Post a Comment