[Musim Corona] Mama, Jauh Sebelum Corona
Buka sepatu, cuci tangan, cuci kaki, ganti baju. Itu SOP kami sejak kecil setiap pulang dari sekolah atau berpergian. Lebih dari itu, cuci tangan dan cuci kaki tampaknya menjadi dua hal yang amat penting. Bahkan mama menyebut alasannya, "Agar setan dari jalanan ngga jadi menempel" atau "Itu setan dari bus masih nempel," kalau aku tidak segera berganti pakaian. Setan yang dimaksud adalah segala yang kotor dari luar, kuman penyakit.
Mama juga punya SOP khusus untuk cuci kaki, bagaimana kaki saling digosokkan untuk menghilangkan kotorannya. Karena alasan pentingnya cuci kaki ini, saat merenovasi rumah, Mama mengusulkan untuk menempatkan keran air di dekat pintu masuk ke rumah, tepat di samping rak sepatu. Jadi di rumah kami, saat pulang sekolah kami akan masuk melalui garasi. Di ujung garasi, kami akan melepaskan sepatu dan meletakkannya di rak sepatu di situ. Lalu, tepat berhadapan dengan pintu masuk ke dalam rumah, ada kran air tempat kami bisa mencuci kaki dan tangan. Jangan lupa keset sebelum masuk rumah, kalau tidak mau Mama marah :D
Aku jadi teringat di Kampung Adat Kajang. Di depan rumah adatnya yang dibangun dari kayu-kayu pohon yang ditanam sendiri, mereka menempatkan gentong berisi air untuk mencuci tangan dan kaki sebelum memasuki rumah.
Belakangan, saat Corona atau Covid-19 mewabah, himbauan untuk mencuci tangan banyak disampaikan. Cuci tangan saat pulang dari berpergian, atau setelah banyak menyentuh benda-benda yang juga disentuh banyak orang seperti gagang pintu, pegangan di dalam bus, atau tombol lift. Untuk beberapa hal, Mama sudah melakukannya sejak lama. Misalnya, Mama ngga pernah mau buang sampah di tong sampah umum yang mengharuskan kita membuka tutupnya dengan tangan. Menurutnya, mau buang sampah, tapi malah harus mengotori tangan dengan tutup tempat sampah yang pasti penuh kuman. Dan, Mama lebih sering membawa pulang sampahnya untuk dibuang di rumah. Mama juga menghindari pegangan tangga, dan tentang uang, Mama punya cara-cara khusus.
Mama punya dompet utama, biasanya berisi uang kertas pecahan besar yang dimasukkan dalam amplop di dalam dompet. Mama tidak suka menerima uang kembalian, apalagi kalau uangnya dekil. Maka, uang kembalian tidak pernah ditaruh kembali di dalam dompet. Sayang dompetnya kalau buat menyimpan uang jelek, kata Mama. Biasanya Mama punya amplop lain untuk menyimpan uang kembalian di luar dompet. Dulu, sebelum pensiun, Mama rutin menukarkan uang baru pecahan kecil melalui teman kantornya yang suaminya bekerja di bank. Ini untuk menghindari mendapatkan terlalu banyak kembalian. Menurut Mama, uang itu penuh dengan kuman karena beredar dari tangan ke tangan. Nah, ini juga sempat jadi berita kemarin, bahwa virus dapat menular melalui uang.
Mama juga punya SOP khusus untuk cuci kaki, bagaimana kaki saling digosokkan untuk menghilangkan kotorannya. Karena alasan pentingnya cuci kaki ini, saat merenovasi rumah, Mama mengusulkan untuk menempatkan keran air di dekat pintu masuk ke rumah, tepat di samping rak sepatu. Jadi di rumah kami, saat pulang sekolah kami akan masuk melalui garasi. Di ujung garasi, kami akan melepaskan sepatu dan meletakkannya di rak sepatu di situ. Lalu, tepat berhadapan dengan pintu masuk ke dalam rumah, ada kran air tempat kami bisa mencuci kaki dan tangan. Jangan lupa keset sebelum masuk rumah, kalau tidak mau Mama marah :D
Aku jadi teringat di Kampung Adat Kajang. Di depan rumah adatnya yang dibangun dari kayu-kayu pohon yang ditanam sendiri, mereka menempatkan gentong berisi air untuk mencuci tangan dan kaki sebelum memasuki rumah.
Belakangan, saat Corona atau Covid-19 mewabah, himbauan untuk mencuci tangan banyak disampaikan. Cuci tangan saat pulang dari berpergian, atau setelah banyak menyentuh benda-benda yang juga disentuh banyak orang seperti gagang pintu, pegangan di dalam bus, atau tombol lift. Untuk beberapa hal, Mama sudah melakukannya sejak lama. Misalnya, Mama ngga pernah mau buang sampah di tong sampah umum yang mengharuskan kita membuka tutupnya dengan tangan. Menurutnya, mau buang sampah, tapi malah harus mengotori tangan dengan tutup tempat sampah yang pasti penuh kuman. Dan, Mama lebih sering membawa pulang sampahnya untuk dibuang di rumah. Mama juga menghindari pegangan tangga, dan tentang uang, Mama punya cara-cara khusus.
Mama punya dompet utama, biasanya berisi uang kertas pecahan besar yang dimasukkan dalam amplop di dalam dompet. Mama tidak suka menerima uang kembalian, apalagi kalau uangnya dekil. Maka, uang kembalian tidak pernah ditaruh kembali di dalam dompet. Sayang dompetnya kalau buat menyimpan uang jelek, kata Mama. Biasanya Mama punya amplop lain untuk menyimpan uang kembalian di luar dompet. Dulu, sebelum pensiun, Mama rutin menukarkan uang baru pecahan kecil melalui teman kantornya yang suaminya bekerja di bank. Ini untuk menghindari mendapatkan terlalu banyak kembalian. Menurut Mama, uang itu penuh dengan kuman karena beredar dari tangan ke tangan. Nah, ini juga sempat jadi berita kemarin, bahwa virus dapat menular melalui uang.
Rasanya aku denger suara Mama bilang, "Nah, bener kan!"


Comments
Post a Comment