#DiRumahAja (Musim Corona)

Topik kali ini sungguh-sungguh tidak menyenangkan. Inilah kita, di rumah, berteman internet, lalu setiap hari gelisah mendapat berita tentang kenaikan jumlah korban, semua WAG membahas corona, semua chat tentang kecemasannya. Dan kita sendiri ngga yakin apakah kita sebetulnya sehat, atau sempat terkena dan membawa virus kesana-kemari dalam perjalanan yang sebelumnya. Mudah-mudahan tidak.

Kerja di rumah bukan sesuatu yang baru buat aku Dodi. Selama ini kami lebih banyak kerja di rumah jika memang tidak ada pertemuan dengan orang lain atau agenda turun ke lapangan, jadi kami tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri. Tapi coba bayangkan orang-orang yang rutinitasnya bekerja di kantor lalu tiba-tiba mesti diam di rumah saja. Tentu akan sulit. Pertama sudah pasti karena situasi yang sama sekali baru. Tantangan terbesarnya, bagaimana mengondisikan pikiran untuk bekerja di rumah yang selama ini didefinisikan sebagai tempat istirahat.

Kedua, mungkin banyak yang jadi menyadari bahwa pekerjaan rumah itu bisa jadi lebih berat dari pada pekerjaan kantor. "Welcome home," kata si panci kotor di bak cuci piring. Atau lantai ngeres yang manggil-manggil untuk disapu. Pekerjaan rumah tidak mengenal deadline, tapi juga tidak ada habisnya.

Aku misalnya, kalau pas di rumah, jadi otomatis memikirkan masak apa hari ini, ngga tenang liat piring-piring kotor menumpuk, atau tiba-tiba sibuk benerin selang gas yang ngga bener-bener posisinya. Mungkin itu kenapa kantor diciptakan, supaya kita jauh dari urusan-urusan yang ruwet dan lebih fokus berpikir... hahaha... Tapi bener, meski sering kerja di rumah, kadang aku tetap butuh kantor atau kafe untuk pelarian supaya aku ngga perlu mikirin masak atau cuci piring. Kalau penghuninya tidak ada, otomatis rumah juga status quo, ngga banyak yang harus diberesin.

Ketiga, konon katanya jadi lebih banyak pertengkaran suami istri... hahaha... Tapi ini aku sangat maklum kok, dua poin sebelumnya cukup bisa jadi penyebabnya. Lelah, ditambah situasi di luar rumah yang sedang tidak menentu bikin panik. Apalagi pasangan yang seminggu cuma dua hari ketemu, tiba-tiba ketemu-ketemu terus setiap hari tentu banyak hal yang bisa jadi bahan perdebatan. Aku ngalamin kok, kalau lama di rumah sama Dodi. Tapi karena kita sudah terbiasa, ya jadi semacam auto punya mekanisme untuk mencegah sebelum marah-marahan, kalau terpaksa sudah marah-marahan (jarang sih, yang sering ngomel-ngomel), atau setelahnya.


Aku ngga punya tips untuk bekerja di rumah, wong aku sendiri masih sering males-malesan dan menjadikan pekerjaan rumah tangga sebagai alasan untuk menunda ngetik. Tapi kondisi di rumah saat ini membuat aku semakin menyadari arti rumah. Secara fisik, rumah benar-benar tempat kita berlindung dari hal-hal buruk di luar.

Selain itu, rumah agar menjadi "rumah" harus dibangun bersama oleh penghuninya. Harus dijaga dan dikelola bersama. Aku dan Dodi tidak pernah berucap secara khusus, "Kamu ngerjain ini, aku ngerjain itu." Tapi kami banyak berbagi pekerjaan rumah. Tidak hanya berbagi, aku juga bisa bilang aku capek, aku males, aku ngga sempat, atau bahkan sebelum aku sempat bilang, bisa saja pekerjaan rumahku dikerjakan oleh Dodi dan (kadang) juga kebalikannya. Tapi tentu penyesuaian ini tentu tidak didapat begitu saja, melainkan terbentuk oleh proses (dan omelan) kami berdua.

Tapi satu hal niscaya yang bikin tidak tenang bekerja di rumah hari-hari ini adalah situasi di luar yang sedang tidak menentu. Ini cukup alasan untuk membuat kerja tidak tenang, atau memancing perdebatan suami-istri. Jadi meski sudah terbiasa bekerja di rumah, tapi sungguh, yang kali ini sangat berbeda dengan hari-hari biasa. Tidak mudah untuk dijalani sebagaimana biasanya.

Hari ini tepat seminggu aku berdiam diri di rumah, tepat setelah pulang dari Jambi. Sehari kemudian, Dodi yang pergi untuk sebuah penugasan ke wilayah Bogor, baru pulang lagi dua hari yang lalu. Tetapi selama berjauhan, komunikasi kami cukup intensif terutama seputar tentang masker, cuci tangan, minum air putih, minum vitamin, dan berderet lagi lainnya. Nyaris tanpa senyuman. Kadang berbeda pendapat lalu berdebat. Betul-betul garing. Dan tegang.

Sampai akhirnya kemarin kami berdua membuat kesepakatan, bahwa waspada tetap nomor satu tetapi tidak kalah penting untuk tetap lucu, tetap ketawa, dan banyakin pelukan karena ini juga bisa meningkatkan imun tubuh. Di saat begini, penting untuk menjaga pikiran tetap positif.

Semoga musim corona segera berlalu. Semoga keluarga-keluarga yang terdampak baik secara kesehatan, finansial, ataupun dampak lainnya, bisa kuat bertahan dan segera pulih. Semoga mereka-mereka yang berada di garda depan melawan corona dilindungi, dikuatkan, dan dimudahkan urusannya. Aamiinn...

Comments

Popular Posts