Rumah yang Bisa Membereskan Dirinya Sendiri

Bulan Juni lalu, aku dan Karin melakukan perjalanan ke Bangkok. Karin yang punya acara, semacam konferensi internasional arkeologi. Sementara aku, cuma mau ikut saja, memperpanjang libur setelah lebaran. Kami beruntung karena mendapatkan akomodasi gratis milik relasi atasannya Karin. Letaknya agak di pinggiran Bangkok, pun sekitar satu kilometer menuju stasiun MRT. Tetapi sebagai traveler minim modal, tentu kami pantang menolak yang gratis. Apalagi dari hasil pencarian di internet, rumah yang akan kami tinggali tampak nyaman dan apik.

Dream Home, demikian tertulis di pagar luarnya. Rumah itu milik Yao dan memang sering disewakan melalui aplikasi Airbnb. Yao menyambut kami saat malam itu kami tiba, memberikan semacam panduan lingkungan sekitar (arah MRT, pasar, dan 7-11 terdekat), lalu menunjukkan apa-apa saja yang ada di rumahnya (house tour). Tidak ada pesan khusus selain untuk tidak membuka pintu halaman samping dan belakang rumah, karena di situ wilayah tinggal anjingnya yang bisa dibilang tidak suka bertemu orang baru. 

Rumah Yao melampaui ekspektasi kami. Tidak saja nyaman dan ditata apik sebagaimana yang kami lihat di foto-foto Airbnb, tetapi juga sangat rapi dan menyediakan beberapa hal yang dibutuhkan oleh traveler irit seperti kami. Katakanlah air minum yang tersedia di botol-botol isi ulang dalam jumlah yang banyak, belum termasuk kopi dan teh yang tersedia untuk diseduh, serta beberapa minuman dingin dalam kemasan yang boleh kami minum. Selain itu, ada sabun cuci (bubuk dan cair) di kamar mandi, serta jemuran pakaian di teras belakang. Juga hair dryer dan perlengkapan dapur seperti oven, ketel listrik, microwave, kompor, dan sebagainya yang bisa kami pakai. Dengan dapur yang lengkap, kita bisa mengirit anggaran dengan memasak sendiri atau minimal beli frozen food di Sevel lalu dipanaskan di rumah. Dan memang itu yang kami lakukan untuk makan malam atau makan pagi. 

Ada hal menarik yang aku temui di rumahnya, bahwa Yao memilah sampah plastiknya. Sekali lagi, memilah sampah plastik, bukan sekadar memilah sampahnya. Sedotan plastik dan tutup botol memiliki tempat masing-masing berupa kantong plastik yang digantungkan di pintu lemari dapur bagian bawah. Di meja dapur, dekat dengan baki yang berisi kopi dan teh dalam kemasan saset, disediakan botol plastik yang sudah setengah terisi oleh plastik-plastik pembungkus. Itu untuk dibuat ecobrick. Selain itu, dekat dengan tempat sampah, ada box untuk membuang sampah plastik dan kemasan lainnya dalam keadaan bersih. Wait... Yao tidak menuliskan kemasan harus dibuang dalam keadaan bersih. Tetapi di area bak cuci, aku melihat ada kemasan mangkuk mie dan kotak minuman yang baru dicuci, dan sepertinya akan dibuang di dalam box itu seperti yang lain. Ini pasti kode. 


Karena kami cukup cerdas, maka tak perlu Yao menjelaskan panjang lebar (dan nyatanya memang tidak) bahwa sampah harus dibeginikan, dibegitukan, kami sudah tahu bagaimana memperlakukan sampah kami di rumah Yao. Juga penempatan barang-barang lain, seperti payung, botol kaca air mineral isi ulang yang sudah kosong, dan lain-lain. Selain itu, alat-alat pembersih juga tersedia di depan mata tanpa merusak visual penataan rumah. Misalnya saja di sebelah wastafel kamar mandi tersedia lap microfiber, atau sapu dan pengki kecil yang banyak kami temukan bawah wastafel atau di di dapur. Selain itu juga ada sapu/pembersih lantai yang tidak sempat kami gunakan, karena memang ngga bikin kotor yang gimana. 


Aku mengambil kesimpulan bahwa Yao mengikuti saran Marie Kondo bahwa semua barang harus ada tempatnya, agar kita mudah membereskannya; juga yang penting dalam menata barang di rumah bukan bagaimana caranya agar mudah diambil, tetapi bagaimana caranya agar mudah di bereskan. Rumah Yao memberikan contoh aplikasi metode Marie Kondo tanpa harus menjadi minimalis. Selain itu, penempatan alat-alat kebersihan yang tidak tersembunyi juga menjadi kode agar penghuni rumah langsung dapat membersihkan kotorannya tanpa menunda-nunda. Ini yang kusebut rumah yang bisa membersihkan dirinya sendiri, karena kemudian, siapapun yang menghuni (asal cukup cerdas) pasti bisa membereskan sendiri kotorannya.

***

Selang sepuluh hari kemudian, aku kembali menyewa rumah Airbnb. Kali ini untuk urusan serius, aku dan teman-teman Sokola membutuhkan tempat untuk mengisolir diri agar kami bisa menulis dengan tenang modul yang rencananya akan terbit tahun ini. Pilihan kami jatuh pada sebuah rumah dengan empat kamar tidur di daerah Jakarta Selatan. Rumahnya sungguh besar dan mungkin bisa dikategorikan mewah. Belum sampai hari kami akan menginap, pengelola rumah sudah meminta kami menyediakan office boy. Supaya bisa bersih-bersih katanya. Dalam hati aku berkata, buset, yang punya rumah ngga mau rugi amat. Itu kan risiko rumahnya disewa. Lagian, kita mau bikin berantakan macam apa?

Selain itu juga masih ada aturan jangan ini, jangan itu. Lampu yang ngga boleh dinyalain, AC yang ngga boleh dinyalain (kecuali nambah Rp500 ribu sehari), bantal sofa yang harus kembali pada tempatnya dengan urutan warna yang sama. Cukup aneh juga peraturannya. Tapi satu hal yang jadi catatanku, dia meminta kami untuk membereskan lagi rumahnya, tetapi ia tidak menyediakan alat pembersih yang proper untuk rumah sebesar itu. Cuma ada sapu plastik ringan dan pengki yang tampak baru dibeli. Bahkan sabut pencuci piring pun sudah jelek sekali. Selain itu, ia menyediakan kantong sampah hitam yang dibuka begitu saja di sudut dapur belakang. 

Mungkin pemilik rumah ini mengalami penyewa-penyewa yang sembarangan, yang meninggalkan rumah dalam keadaan kacau balau, yang berpikir menyewa Airbnb seperti hotel yang termasuk layanan kebersihan (meski beberapa Airbnb di Jakarta aku lihat memberi layanan ini). Kalau memang begitu, wajar juga reaksinya jadi penuh peraturan begitu. Tapi harusnya diikuti dengan menyediakan alat-alat yang memadahi dong, supaya penghuni sementaranya bisa setidaknya menghapus jejak-jejak kehadirannya beberapa hari di sana. Dan sebagai penyewa, juga harus tahu diri dong, untuk tidak meninggalkan banyak jejak di tempat itu.



Comments

Popular Posts