Sebelum Traveling

Pekerjaanku memungkinkan aku bisa melakukan perjalanan bareng Dodi. Baik perjalanan karena kami sama-sama bertugas di tempat yang sama, ataupun karena fleksibilas waktu kerja kami. Sudah tentu, ini sangat kami syukuri.

Saat akan melakukan perjalanan bersama, sudah tentu rumah akan kami tinggalkan. Yah, titip-titip sih ke sekuriti di sebelah (rumahku bersebelahan dengan pos sekuriti kompleks), tapi tentu mereka hanya sebatas mengecek dan memastikan keamanannya. Biasanya 2-3 hari sebelum pergi, kami mulai sibuk-sibuknya di rumah. Bukan hanya packing barang-barang yang akan dibawa tetapi juga membereskan seisi rumah. Pergi dua hari atau dua minggu, SOP-nya sama. Beberes rumah!

Ini ilmunya Mama, harus kuakui. Mama selalu menekankan pentingnya beberes sebelum pergi. Supaya nanti, saat pulang dalam kondisi capek, tidak perlu melihat rumah berantakan yang akan membuat capeknya berlipat ganda dan akhirnya jadi marah-marah. Aku mengamini. Tapi tentu saja tidak serajin Mama yang, beberes berapapun lamanya pergi. Baik ke kantor yang cuma beberapa jam atau ke luar kota yang berhari-hari. 

Membereskan isi rumah sebelum pergi meliputi membereskan barang-barang yang tidak pada tempatnya, menyapu dan kalau perlu mengepel lantainya sekalian, menyikat kamar mandi, menurunkan pakaian-pakaian yang menggantung, menutup rak piring dengan serbet, dan sebagainya. Sementara urusan dapur, biasanya dilakukan beberapa jam sebelum pergi, yakni memastikan tidak ada piring dan gelas kotor, rice cooker bersih, dan mengeluarkan sampah. 

Dengan daftar panjang yang mesti dibereskan itu, 2-3 hari menjelang pergi biasanya aku sangat lelah. Dan malam sebelum pergi, biasanya aku begadang untuk menyelesaikan segala sesuatunya. Ya packing, ya beberes. Belum lagi kalau ada pekerjaan kantor yang mesti diselesaikan sebelum aku pergi. Tidak heran, biasanya aku selalu tertidur sebelum pesawat tinggal landas. 

Kupikir-pikir lagi, ini tidak cuma kulakukan kalau pergi dengan Dodi. Pergi sendiri pun, biasanya aku sempatkan untuk beberes dulu dengan kadar yang lebih ringan tentu. Tapi ada bonus untuk menyiapkan segala keperluan Dodi tersedia, seperti persediaan makanan, mengisi kulkas dengan makanan yang tinggal goreng, minuman kesukaan, dan barang-barang yang biasa dibutuhkan agar siap di tempat yang terlihat olehnya. Demi suami, sekaligus mungkin kurang percaya ninggalin rumah ke suami... Hahaha!


Bagaimanapun, bagian terbaik dari perjalanan adalah ketika tiba saatnya pulang. Berdebar-debar rindu rumah, rindu kasur dan membaui bantal, memasak sendiri dan mendapatkan rasa yang diinginkan, menyeduh teh panas dari cangkir kesayanganku, dan banyak kenikmatan lain di rumah. Benar memang kata orang Swedia, "Away is fine, but home is the best!"

Comments

Popular Posts