Mengelola Waktu

Terakhir Mama datang, ia mengeomentari tentang kebiasaanku mencuci satu kali seminggu. Hanya weekend saja. Well, untuk tambahan cucian misalnya saat baru pulang berpergian luar kota atau ada cucian besar seperti selimut, seprei, dan sebagainya, ada kalanya aku punya extra hari mencuci di tengah minggu. Tentu saja saat aku tidak harus ke mana-mana setelahnya. Biar santai nyucinya.

Tapi Mama ngga habis pikir kenapa aku bisa mencuci seminggu sekali. Sebelumnya, ia pernah protes juga dengan tumpukan baju kotor yang menurutnya bikin bau kamar mandi. Padahal menurutku tidak. Yang bikin (kadang) bau itu karena ada handuk basah di kamar mandi. Menurutku. Tapi Mama selalu punya opininya sendiri.

Mama bilang, ia bisa menyelesaikan banyak pekerjaan rumah termasuk mencuci sebelum berangkat kantor. Tentu saja. Perjalanannya ke kantor cuma makan waktu 15 menit dengan mobil. Jadi kalau harus tiba di kantor pukul 9.00 pagi, berangkat pukul 8.30 masih sangat santai. Masih cukup banyak waktu antara bangun tidur sampai berangkat kantor. Karin adikku bahkan masih bisa menyelesaikan satu episode drama Korea sebelum berangkat ke kantor. Tentu saja itu sebelum ia punya bayi.

Sementara aku, paling cepat perjalanan ke kantor memakan waktu 1,5 jam. Kalau mau tiba di kantor pukul 9.00, tentu harus berangkat pukul 7.00 pagi. Ini kantor Tebet. Dulu, saat kantor masih berada di Bekasi, butuh 2,5-3 jam untuk sekali perjalanan dan 2,5-3 jam lagi untuk perjalanan pulang. Tentu aku tidak mengingatkan Mama kalau tidak setiap hari aku ke kantor, dan ke kantor pun, aku biasa berangkat pukul 9.00 pagi. Hehehe...

Tapi kan, 15 menit perjalanannya Mama duduk di mobil ber-AC. Sementara 1,5 jam perjalananku membutuhkan energi besar untuk naik ojek lalu, naik turun tangga stasiun, dan berdiri di kereta. Tentu aku mengutamakan mengadakan sarapan pagi dibanding mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Setiba di rumah dari kantor pun, Mama bakal masih cukup segar untuk mengerjakan banyak hal di rumah. Sementara yang habis menempuh macet atau berdesakan di kereta, tentu maunya cuma tidur.

Aku membandingkan waktuku sekarang dengan rumah di Depok, dengan dulu, saat masih tinggal di Cipulir, Jakarta Selatan. Di zaman yang belum ada Go-jek, aku masih bisa mengikuti drama Korea yang diputar sore hari di Indosiar. Sekarang, sekali keluar, sampai rumah pasti selepas magrib. Saat kantor masih di Bekasi, sudah pasti pulang kantor lewat dari pukul 9.00 malam.


Ibukota (dan sekitarnya) memang kejam. Kurasa umumnya orang di Jakarta mengelola waktu bukan 24 jam sehari, melainkan hanya 20 jam atau bahkan kurang. Karena yang empat jam (dan lebih) mereka akan habiskan hanya di perjalanan. Mungkin ini sebabnya orang Jakarta, terutama yang kantoran, hampir selalu jalan terburu-buru. Dan waktu di perjalanan diubah menjadi me-time buat nonton drama korea, main game, baca buku, atau sejenak tidur, karena nanti di rumah, akan ada rentetan kewajiban lainnya semacam mencuci pakaian dan membereskan rumah. Walaupun ada juga yang memanfaatkan perjalanan untuk memperpanjang waktu kerjanya seperti membalas email dan chatting di WA tentang pekerjaan.

Seandainya mataku tidak plus, tentu aku akan menghabiskan berseri-seri drama Korea di atas kereta. Kereta yang penuh bahkan tidak memberi ruang yang cukup untuk mataku menatap layar ponsel.

Comments

Popular Posts