Balada Santan Instan

Satu hal yang selalu membuatku merindukan rumah (Mama) adalah masakannya. Aku rasa itu semacam jebakan yang umum, trik seorang ibu agar anak-anaknya selalu ingat untuk pulang. Begitulah aku setelah berumah sendiri, selalu rindu masakan rumah. Tidak saja di sini susah mendapatkan masakan Jawa rumahan, tetapi banyak masakan Mama yang rasanya tidak serta merta sama dengan masakan yang sama yang dijual di warung atau restoran. Bukan masalah enak yang mana, tapi rasa itulah yang sudah terekam baik dalam ingatan kami anak-anaknya. Jadi sekalipun kami bisa membeli sop, rawon, brongkos, dan yang lainnya, tetap saja rasanya berbeda dengan yang kami kenal di rumah. Cara satu-satunya untuk bertahan saat kangen masakan itu, ya dengan masak sendiri.

Mama pemuja kemurnian bahan-bahan. "Kita masak buat sendiri, ya jangan sampai menipu diri sendiri," begitu slogannya. Itu alasan mama menolak kaldu instan. Mama selalu bikin kaldu sendiri dari rebusan daging sapi atau ayam. Ayam pun, harus ayam kampung. Mungkin karena saking konsistennya, aku hampir ngga pernah melihat Mama menikmati masakan di tempat lain selain di rumah, yang dia masak sendiri.

Selain kaldu, aku juga melihat Mama selalu memakai santan dari kelapa asli. Untuk sebagian besar masakan, malahan Mama memarut sendiri kelapanya karena dia ilfil melihat mesin pemarut di pasar. Maka pengalaman (melihat Mama) memasak di rumah dulu sungguh membebaniku saat aku memiliki rumah dan mengelola dapurku sendiri. Kalau mau idealis dan perfeksionis tentu aku sudah 100% mengikuti Mama. Tapi kan kami hidup dalam konteks yang berbeda (silakan baca di tulisan sebelum ini). Mengikuti semuanya seperti Mama akan sangat melelahkan.

Untuk masalah kaldu, sejauh ini aku masih mengikutinya karena aku memang bertekad untuk menghindari MSG. Tapi aku pernah memakai kaldu instan organik yang non MSG. Mama cuma ketawa menyeringai saat tahu itu. Dan kalau aku tidak lagi memakai kaldu instan organik, itu sama sekali bukan karena Mama. Tapi lebih karena aku tidak bisa menyimpan dengan baik. Biasanya baru sepertiga botol, kaldu yang tersisa sudah keras menggumpal. Mungkin karena lembab.

 

Nah, lain halnya dengan santan kelapa. Jujur saja, setelah memberanikan diri menggunakan Kara, aku jadi lebih senang memasak. Tidak hanya untuk sayur semacam opor atau lodeh saja, tetapi juga makanan seperti bubur sumsum dan carang gesing. Alangkah indahnya kehidupan dapur tanpa sibuk memarut dan memeras kelapa. Aku bisa masak bubur sumsum dalam sekejap tanpa banyak meninggalkan cucian kotor. Mengolah carang gesing cukup lima menit sebelum aku rebus atau kukus. Oh, maafkan aku leluhur yang mewariskan resep bubur sumsum dan carang gesing. Maafkan aku, Mama.

Tapi akhirnya Mama membuat pengakuan. Setelah mendengar ceritaku tentang bubur sumsum praktis, ia pun akhirnya pakai Kara! Kan... kan... masaknya jadi lebih gampang, kan? ; )

Comments

Popular Posts