Drama Rice Cooker: Kembali ke Cara Lama


Periuk nasi ini ku keluarkan dari persembunyian, awalnya karena mati lampu dan kami tidak bisa menggunakan penanak nasi listrik seperti biasanya. Seru-seruan saja, kebetulan pas lauknya adalah ayam goreng yang berteman dengan lalap dan sambal. Maka sengaja kutambahkan bawang dan daun salam ke dalam masakan nasi dan voila... kami bersantap ala Sunda hari itu.


Dari teman-teman, aku mendapatkan referensi istilah lain. Di Jogja misalnya, disebut ketel. Sementara Jawa Barat menyebutnya kastrol atau kaserol. Orang Sumatera umumnya menyebut periuk atau variannya piok. Ada yang unik dari penamaan tersebut. Ketel mirip dengan bahasa Inggris "kettle" namun wujudnya adalah ceret. Sementara kastrol atau kaserol mirip dengan "casserole" yang menurut wikipedia bisa diartikan sebagai panci yang digunakan untuk memanggang sekaligus menyajikan masakan, tetapi bisa juga untuk menyebut nama masakannya. Aku tidak menemukan istilah periuk dalam bahasa lain. Mungkin memang periuk adalah penamaan asli kita, Melayu.

Kembali ke masalah nasi, belum sempat periuk disimpan lagi, penanak nasi listrik kami bermasalah padahal baru saja dibeli. Belum satu bulan umurnya ketika aku menyadari bahwa nasi yang disimpan selalu basi dalam waktu kurang dari 24 jam. Setelah ditilik, ternyata uap air tidak tersalur keluar sehingga menetes masuk ke dalam panci nasinya setiap kali tutupnya dibuka. Ini yang bikin nasi cepat basi. Maka kami membawanya ke pusat layanan perbaikan terdekat, mumpung masih garansi. Sebagai konsekuensi, kami mengandalkan cara rimba untuk memasak nasi. 

Aku menyebutnya cara rimba, karena di sanalah aku belajar memasak nasi dengan periuk ini. Dan memang periuk ini kubeli di toko kecil di desa Mekarjaya yang berbatasan dengan Rimba Bukit Duabelas, Jambi. Di rimba, memasak nasi dengan periuk ini cukup rumit karena apinya harus dijaga betul. Saat masih berair, masak dengan api besar. Setelah surut, biarkan dengan api kecil dengan cara mengurangi kayu api. Kalau yang bertugas memasak nasi tidak telaten menunggui api, bisa sampai dua jam baru nasi matang. Kadang juga tidak matang sempurnya. Mereka menyiasaati dengan menaruh sejumput garam kasar di tutupnya saat api sudah kecil. Katanya, dengan begitu nasi akan matang dengan baik. 


Aku memang tidak mengenal memasak nasi dengan periuk sampai aku ke rimba. Dulu, saat belum memiliki penanak nasi listrik di rumah Jogja, kami memasak nasi dengan cara merebus beras dalam panci. Setelah airnya surut, dipindahkan ke dalam dandang (ditanak). Cara ini tidak kupilih karena membutuhkan dua perangkat masak, yang konsekuensinya mencuci lebih banyak. Dengan periuk, cukup satu saja yang kotor. Namun, tantangannya adalah membuat nasi tanpa berkerak. Aku belum bisa. Tapi kerak pun adalah seni. Kalau orang dulu, kerak nasi ini dijadikan peganan lain bernama intip. Sayangnya, aku tidak serajin orang dulu. Memasak nasi dengan periuk pun, aku sudah merasa kerepotan karena nasi harus ditunggui. Untuk makan malam, kami menyantap nasi dingin sisa siang karena menghangatkan nasi (mestinya dengan cara didandang) berarti adalah ekstra pekerjaan. Belum lagi intip yang awalnya enak dan suka aroma gosongnya, tetapi gigiku sedang bermasalah sehingga tidak bisa terlalu banyak mencerna makanan keras. Di sisi lain, hatiku sedih saat terpaksa membuang kerak nasi.


Sebegitu tergantung kami pada penanak nasi listrik, pada kepraktisan yang ditawarkan sehingga tidak cukup bersabar menelateni proses beras menjadi nasi; mensyukuri setiap hasilnya, nasi maupun intip. Sebegitu terburukah, kita? 

Comments

Popular Posts