Rumah Tanpa AC
Tadi malam mati lampu cukup lama. Kabarnya ada kerusakan di gardu mana gitu. Di Whatsapp Group RT, ibu-ibu bersahutan membicarakan mati lampu, mengeluhkan tidak bisa tidur dan mesti kipas-kipas manual untuk meredam udara panas karena tidak bisa menyalakan penyejuk ruangan.
Aku?
Terus terang obrolan WA group ini aku baca baru tadi pagi, karena semalam sudah tidur nyenyak dengan jendela yang terbuka lebar seperti biasanya. Bedanya, malam tadi terasa lebih sejuk karena tidak ada lampu yang menyala. Gelap gulita, mengingatkanku saat bermalam di rimba, dan angin yang berhembus menerpa pipi. Sejuk memang relatif.
"Rumahnya ngga pakai AC? Memang ingin yang ramah lingkungan, ya Bu?" Kalimat ini pernah terlontar dari salah satu ibu tetangga saat berkumpul arisan di rumah.
Ramah lingkungan? Hmmm... boleh juga. Yang jelas ramah di kantong!
Memasang AC sudah lama menjadi wacana kami semenjak rumah ini selesai direnovasi. Pak tukang yang handal dan berpengalaman telah memasangkan saluran pembuangan air dan kabel listrik di setiap kamar untuk memudahkan jika kami akan memasang penyejuk ruangan. Tinggal pasang saja, tidak perlu rumit memikirkan kabel dan saluran. Semua rapi tertutup tembok.
Tapi toh, AC tidak kunjung terpasang. Nanti-nanti melulu. Saat malam yang panas, kami mengeluh dan bertekad pasang AC segera. Tapi ketika udara sejuk, wacana AC segera terlupakan. AC memang hanya terpikir untuk dipasang di kamar di lantai dua yang memang udaranya lebih panas dari lantai dasar yang memilki banyak lubang angin. Sebagai solusi sementara, kami menggunakan kipas angin. Kipas angin biasa yang murah dan banyak dijual di toko perlengkapan rumah. Namun akhirnya kami sampai di satu titik sepakat bahwa kipas angin ini sudah cukup. Tidak perlu AC. Percaya atau tidak, saat udara panas, dengan atau tanpa kipas angin menyala, aku tetap pakai selimut tebal supaya kaki tidak menjadi dingin. Kalau kaki dingin, hidung bisa bersin-bersin.
Bersin-bersin memang tidak mengenal suhu. Saat udara gerah pun, itu bisa terjadi. Apalagi pas kedinginan. Ini yang menjadi pertimbangan utama untuk tidak memasang AC di rumah. Berdasar pengalaman, setiap kami tidur di hotel dengan AC, paginya aku selalu bersin-bersin. Jadi kenapa harus pasang AC kalau itu akan membuat aku tidak nyaman? Hikmahnya, tentu membayar listrik jadi murah. Dengan pemakaian lampu hemat dan penggunaan cahaya alami yang optimal di dalam rumah, penggunaan listrik kami cukup hemat. Dibandingkan saat rumah kami masih tipe 36 yang hanya punya tujuh titik lampu, tagihan listrik hanya selisih Rp50.000,00-70.000,00 saja dengan empat kali kenaikan TDL.
Jadi bagi yang ingin merenovasi rumah, aku amat merekomendasikan untuk berinvestasi pada lubang angin dan pencahayaan alami dari matahari karena ini akan menyederhanakan hidupmu selanjutnya.




Comments
Post a Comment