Menyapu #2: Trik Nyonya Rumah Pemalas

Ini masih tentang sapu-menyapu. Tentu saja sapu yang aku maksud di tulisan ini adalah jenis sapu rayung sebagaimana aku ceritakan di tulisan sebelumnya karena memang sepanjang hidupku di rumah, baik di Jogja, Jakarta maupun sekarang di Depok, inilah sapu yang aku kenal.

Teknik menyapu aku dapat dari Mamaku yang hobi sekali menyapu. Tiap hari minimal dua kali ia menyapu lantai, itu di pagi dan sore hari. Kadang-kadang ada ektra menyapun di antaranya, atau saat malam mau tidur, atau kapanpun ia merasa lantainya ngeres (kotor, berdebu). Asistensi menyapu saat aku masih kecil dulu berupa aba-aba untuk menyapu kolong, atau menggosok lantai yang terkena noda dengan sapu dan bantuan jempol kaki. Pokoknya detail sekali. Sayangnya, kebiasaan menyapu Mama tidak otomatis turun ke aku. 

Menyapu bukan pekerjaan favorit, meskipun aku juga tidak suka lantai kotor (yang ini menurun). Mungkin sejak pindah ke rumah Sawangan, Dodi lebih banyak menyapu dibandingkan aku. Bedanya, Dodi menyapu dengan asal (menurutku), ngga dilihat kemana larinya debu-debu. Yang penting kotoran yang ada di depannya disikat. Sementara aku, tentu saja pakai teori mama. Sekali menyapu, bisa lama. Tapi ngga papa, ini bukti kami saling melengkapi. Hehehe...

Paling rajin menyapu waktu rumah cuma 36 meter persegi. Tapi setelah renovasi jadi dua lantai, pegel juga pinggangnya. Kebetulan rumah yang sekarang punya dua karakter lantai yang berbeda. Di lantai satu, lantainya acian semen aja. Punya lantai seperti ini gampang-gampang susah. Gampang karena lantainya ngga licin dan menyerap air, jadi buat yang pemalas, ngga perlu ngepel kalau ada cipratan air dari bak cuci piring atau tumpahan air minum. Cepet kering. Meskipun untuk minyak, akan meninggalkan noda. Menurutku, lantai ini lebih mudah disaput dibandingkan lantai keramik. Entahlah, mungkin juga cuma perasaanku saja. 

Sementara di lantai dua, lantainya keramik yang kalau kotor langsung terlihat dan terasa. Dan entah kenapa, cepat sekali berdebu. Kalau cuma disapu, debu kadang ngga hilang. Sementara untuk sekalian mengepel, itu butuh tenaga dan kemauan ekstra banget buatku. 

Ide membasahi sapu dengan sedikit air muncul suatu ketika aku menyapu tumpahan air di lantai keramik. Kadung sapunya basah, aku meratakan tumpahan airnya. Eh, kok setelah disapu malah ada efek licin seperti kalau habis dipel. Maka, aku pun bereksperimen. Selanjutnya, sapunya yang kubasahi air sedikit. Sedikit saja, karena kalau kebanyakan jadi kotor di lantai. Biasanya aku lewatkan di bawah shower kamar mandi bolak-balik satu kali. Kalau sudah kering atau tidak ada efeknya lagi di lantai, berarti sapu harus dibasahi lagi. Kalau terlalu banyak air dan lantainya jadi kotor karena bercampur debu, tinggal dilap pakai tisu, biasanya aku pakai tisu bekas. Juga untuk noda di lantai yang susah, tinggal digosok pakai sapu dan jempol kaki. 

Cara ini lumayan menyenangkanku. Tapi rasanya tidak perlu ditiru! :P

Comments

Popular Posts