Mama Datang!
Mama datang tiba-tiba. Siang itu mengabari kalau sore ini akan datang. Memang sudah niatnya bikin kejutan, dan sungguh bikin aku terkejut-kejut.
Alasan utama bukan karena kejutannya, atau karena Mama akan datang pas aku masih di luar rumah. Tapi lebih karena rumah belum beres. Untung Dodi berangkat siangan, jadi dia menyanggupi beresin rumah. Aku bilang kalau standar beresnya Mama beda dengan standar Aa. Dijawab enteng, "Berani tampil beda dong!" Baiklah. Toh ngga ada opsi lain (opsi go-clean ditolak Dodi).
Sebetulnya bukan berantakan banget, sih. Tapi ini Mama. Standarnya beda. Hehehe... Aku masih inget pas kami jalan-jalan ke Singapore. Aku teliti banget baca review saat mau pilih hotel. Sekali ada yang komen negatif tentang kebersihan, pasti langsung aku coret hotel itu dari daftar. Meski begitu tetep aja, Mama di hari pertama udah komen, "Ini pojokan-pojokannya kotor!" Duh, padahal menurutku oke-oke aja. Singapore gitu, hotel backpacker aja bersih. Tapi mungkin Mama punya penglihatan ekstra untuk mendeteksi debu.
Untungnya empat malam di rumahku, Mama ngga banyak komentar (mungkin karena rumahnya lumayan bersih dan beres, tapi bisa juga Mama yang menahan diri untuk komentar). Sebaliknya, kami melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti bikin kue, masak brongkos, dan ngobrol banyak. Memang sih, ada beberapa hal terkait caraku membersihkan rumah yang Mama komentarin. Hehehe... Kalo ngga gitu, bukan Mama namanya, -- meski kayaknya yang ngga disampaiin lebih banyak!
Pertama tentang lap dapur. Mama menyarankan untuk pakai tisu saja yang habis itu bisa dibuang seperti yang dia lakukan selama ini. Wajar sih sarannya, sebagai ibu tunggal, pekerja kantoran, dengan anak empat yang mengelola rumah tanpa ART sejak 20 tahun lalu, tentu ia mencari cara yang paling praktis. Sementara aku yang tidak serajin ia dalam mengurus rumah, tentu punya lebih banyak waktu luang.
Untuk membersihkan dapur seperti mengelap meja dapur, membersihkan kompor atau bak cuci, aku memakai lap mikrofiber dan Ikea. Ada dua lap yang tersedia, satu dipakai dan satu lagi biasanya sudah dicuci, siap dipakai menggantikan yang kotor. Aku tidak terlalu keberatan mencucinya. Biasanya aku sikat, dan karena dilakukan di bak cuci piring maka aku pakai sunlight (lagi-lagi sunlight!). Bagus juga, karena seharusnya menghilangkan lemak/minyak. Secara tampilan memang agak dekil, tapi bukan berarti kotor karena memang noda-noda ngga bisa bersih.
Selain tisu, Mama juga mengusulkan untuk memakai pakaian bekas yang sudah jelek bahkan tidak layak diberikan ke orang lain. Ini bisa untuk lap ataupun pel. Sekali pakai, langsung dibuang. Aku iyain aja, dan belum punya alasannya untuk menolak selain tidak ingin begitu. Aku toh tidak keberatan sesekali mencuci kain pel. Pel yang aku pakai dibeli di JYSK. Kain pel berwarna putih, mirip dengan kain pel lainnya yang punya warna putih, biru atau hijau. Menurutku kain pel JYSK ini cukup bagus. Karena putih, jadi tidak luntur saat direndam air (yang biru kadang luntur, kan?), lalu juga tidak rontok serabut-serabut halus seperti beberapa pel sejenis. Daya serapnya juga bagus. Aku sampai beli untuk persediaan di rumah.
Tapi memang aku memikirkan kaos-kaos bekas yang sudah tidak layak pakai untuk jadi sesuatu, tapi tidak begitu saja dipakai untuk lap. Mesti melalui proses crafting. Iya, dibikin apa gitu. Maunya emang banyak, mudah-mudahan tenaga dan waktunya juga banyak! Hahahaha...
Alasan utama bukan karena kejutannya, atau karena Mama akan datang pas aku masih di luar rumah. Tapi lebih karena rumah belum beres. Untung Dodi berangkat siangan, jadi dia menyanggupi beresin rumah. Aku bilang kalau standar beresnya Mama beda dengan standar Aa. Dijawab enteng, "Berani tampil beda dong!" Baiklah. Toh ngga ada opsi lain (opsi go-clean ditolak Dodi).
Sebetulnya bukan berantakan banget, sih. Tapi ini Mama. Standarnya beda. Hehehe... Aku masih inget pas kami jalan-jalan ke Singapore. Aku teliti banget baca review saat mau pilih hotel. Sekali ada yang komen negatif tentang kebersihan, pasti langsung aku coret hotel itu dari daftar. Meski begitu tetep aja, Mama di hari pertama udah komen, "Ini pojokan-pojokannya kotor!" Duh, padahal menurutku oke-oke aja. Singapore gitu, hotel backpacker aja bersih. Tapi mungkin Mama punya penglihatan ekstra untuk mendeteksi debu.
Untungnya empat malam di rumahku, Mama ngga banyak komentar (mungkin karena rumahnya lumayan bersih dan beres, tapi bisa juga Mama yang menahan diri untuk komentar). Sebaliknya, kami melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti bikin kue, masak brongkos, dan ngobrol banyak. Memang sih, ada beberapa hal terkait caraku membersihkan rumah yang Mama komentarin. Hehehe... Kalo ngga gitu, bukan Mama namanya, -- meski kayaknya yang ngga disampaiin lebih banyak!
Pertama tentang lap dapur. Mama menyarankan untuk pakai tisu saja yang habis itu bisa dibuang seperti yang dia lakukan selama ini. Wajar sih sarannya, sebagai ibu tunggal, pekerja kantoran, dengan anak empat yang mengelola rumah tanpa ART sejak 20 tahun lalu, tentu ia mencari cara yang paling praktis. Sementara aku yang tidak serajin ia dalam mengurus rumah, tentu punya lebih banyak waktu luang.
Untuk membersihkan dapur seperti mengelap meja dapur, membersihkan kompor atau bak cuci, aku memakai lap mikrofiber dan Ikea. Ada dua lap yang tersedia, satu dipakai dan satu lagi biasanya sudah dicuci, siap dipakai menggantikan yang kotor. Aku tidak terlalu keberatan mencucinya. Biasanya aku sikat, dan karena dilakukan di bak cuci piring maka aku pakai sunlight (lagi-lagi sunlight!). Bagus juga, karena seharusnya menghilangkan lemak/minyak. Secara tampilan memang agak dekil, tapi bukan berarti kotor karena memang noda-noda ngga bisa bersih.
Selain tisu, Mama juga mengusulkan untuk memakai pakaian bekas yang sudah jelek bahkan tidak layak diberikan ke orang lain. Ini bisa untuk lap ataupun pel. Sekali pakai, langsung dibuang. Aku iyain aja, dan belum punya alasannya untuk menolak selain tidak ingin begitu. Aku toh tidak keberatan sesekali mencuci kain pel. Pel yang aku pakai dibeli di JYSK. Kain pel berwarna putih, mirip dengan kain pel lainnya yang punya warna putih, biru atau hijau. Menurutku kain pel JYSK ini cukup bagus. Karena putih, jadi tidak luntur saat direndam air (yang biru kadang luntur, kan?), lalu juga tidak rontok serabut-serabut halus seperti beberapa pel sejenis. Daya serapnya juga bagus. Aku sampai beli untuk persediaan di rumah.
Tapi memang aku memikirkan kaos-kaos bekas yang sudah tidak layak pakai untuk jadi sesuatu, tapi tidak begitu saja dipakai untuk lap. Mesti melalui proses crafting. Iya, dibikin apa gitu. Maunya emang banyak, mudah-mudahan tenaga dan waktunya juga banyak! Hahahaha...


Comments
Post a Comment