Lagom
Kemarin sempat killing time di Gramedia. Ada satu kata yang kemudian menggelitik pikiran sampai berhari-hari. Lagom, demikian yang tertulis di sampul buku berwarna biru itu, Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia. Awalnya merasa ini paling-paling hanya buku tips ini-tips itu yang memang merajai rak-rak toko buku. Hanya karena desain kover yang menarik, dan memang aku tertarik dengan segala Scandinavian, maka aku kembali ke rak itu dan membolak-balik halamannya.
Ada satu bab mengenai rumah yang sepintas menarik. Diawali dengan pepatah Swedia: Away is fine, but home is best! Sengaja aku tulis di sini versi English-nya yang kupikir kalimatnya lebih mudah dipahami. Aku tidak sempat membaca lebih banyak, tidak juga membeli bukunya. Tetapi dalam perjalanan pulang, aku googling tentang lagom ini. Menarik. Aku download beberapa sample buku berjudul Lagom di Google Book. Namanya sample, cuma menampilkan bab awal saja. Selebihnya adalah tafsiranku mengenai lagom.
Lagom secara bebas mungkin bisa diartikan sebagai "not too little, not to much", atau ada yang lebih simpel lagi "just right". Pas, lah! Dan kalimat yang awalnya digunakan oleh Viking ini bisa digunakan dalam konteks yang luas, di segala aspek kehidupan orang Swedia, tapi aku lebih tertarik penggunaannya untuk living, untuk kehidupan di rumah, sejalan dengan pencarianku belakangan ini tentang minimalist living.
Awalnya aku merasa ini mirip dengan falsafah orang Jawa (atau mungkin cuma Mama, ya? Hehehe...) yang selalu berusaha berada di tengah-tengah, tidak terlalu ekstrim dalam bersikap. Ngono yo ngono, ning ojo ngono. Kurang lebih semacam itu. Tapi dari (sample) buku terakhir yang aku baca, aku menemukan makna yang lebih luas lagi: balance, keseimbangan. Dan di bawah ini adalah interpretasiku berhubung aku belum membaca bukunya sampai habis.
Ada sub judul yang menarik: How lagom can balance our modern world. Menurut penulisnya, dunia modern adalah dunia yang sibuk, serba cepat, penuh, dan bikin stress. Termasuk biaya sosial yang harus dibayarkan untuk itu, pun untuk lingkungan. Maka rumah mestinya memberikan kita sebaliknya. Itu kenapa desain-desain rumah Scandinavian relatif sepi dengan warna-warna kalem, minimalis, dan juga memasukkan unsur-unsur alam seperti tanaman hidup. Satu catatan yang tidak boleh dilupakan kalau kita mau meniru-niru gaya Scandinavian, yaitu sustainability! Membeli furnitur, misalnya, adalah investasi jangka panjang untuk rumah. Jadi pikirkan untuk membeli furnitur yang berkualitas agar waktu pakainya panjang. Jadi kalau mau gaya Scandi, tapi bolak-balik beli baru-jual yang lama, aku rasa dia tidak memahami filosofinya.
Kurasa lagom akan jadi konsep rumahku! Beberapa hal mungkin sudah kusadari sebelum aku membaca tentang lagom, misalnya aku tidak suka hiasan dinding yang penuh kata-kata karena di luar rumah, di laptop, aku sudah cukup banyak diteror tulisan. Kebetulan rumah juga didisain gaya minimalis, walaupun sebetulnya untuk menyesuaikan budget yang minimalis. Tetapi memang seharusnya begitu, bukan?
Beberapa buku lain tentang lagom yang aku baca melulu tips berlandaskan filosofi lagom untuk menata rumah. Bagus. Beberapa bisa dicoba untuk diikuti. Tapi akan jadi seperi buku-buku tips pasaran lainnya kalau kita ngga berusaha memahami filosofinya. Dan filosofi ini yang menurutku keren.
Nanti aku akan download (beli) versi lengkap buku ini, dan mungkin beberapa lainnya, baru aku coba menulis lebih banyak.
Ada satu bab mengenai rumah yang sepintas menarik. Diawali dengan pepatah Swedia: Away is fine, but home is best! Sengaja aku tulis di sini versi English-nya yang kupikir kalimatnya lebih mudah dipahami. Aku tidak sempat membaca lebih banyak, tidak juga membeli bukunya. Tetapi dalam perjalanan pulang, aku googling tentang lagom ini. Menarik. Aku download beberapa sample buku berjudul Lagom di Google Book. Namanya sample, cuma menampilkan bab awal saja. Selebihnya adalah tafsiranku mengenai lagom.
Lagom secara bebas mungkin bisa diartikan sebagai "not too little, not to much", atau ada yang lebih simpel lagi "just right". Pas, lah! Dan kalimat yang awalnya digunakan oleh Viking ini bisa digunakan dalam konteks yang luas, di segala aspek kehidupan orang Swedia, tapi aku lebih tertarik penggunaannya untuk living, untuk kehidupan di rumah, sejalan dengan pencarianku belakangan ini tentang minimalist living.
Awalnya aku merasa ini mirip dengan falsafah orang Jawa (atau mungkin cuma Mama, ya? Hehehe...) yang selalu berusaha berada di tengah-tengah, tidak terlalu ekstrim dalam bersikap. Ngono yo ngono, ning ojo ngono. Kurang lebih semacam itu. Tapi dari (sample) buku terakhir yang aku baca, aku menemukan makna yang lebih luas lagi: balance, keseimbangan. Dan di bawah ini adalah interpretasiku berhubung aku belum membaca bukunya sampai habis.
Ada sub judul yang menarik: How lagom can balance our modern world. Menurut penulisnya, dunia modern adalah dunia yang sibuk, serba cepat, penuh, dan bikin stress. Termasuk biaya sosial yang harus dibayarkan untuk itu, pun untuk lingkungan. Maka rumah mestinya memberikan kita sebaliknya. Itu kenapa desain-desain rumah Scandinavian relatif sepi dengan warna-warna kalem, minimalis, dan juga memasukkan unsur-unsur alam seperti tanaman hidup. Satu catatan yang tidak boleh dilupakan kalau kita mau meniru-niru gaya Scandinavian, yaitu sustainability! Membeli furnitur, misalnya, adalah investasi jangka panjang untuk rumah. Jadi pikirkan untuk membeli furnitur yang berkualitas agar waktu pakainya panjang. Jadi kalau mau gaya Scandi, tapi bolak-balik beli baru-jual yang lama, aku rasa dia tidak memahami filosofinya.
Kurasa lagom akan jadi konsep rumahku! Beberapa hal mungkin sudah kusadari sebelum aku membaca tentang lagom, misalnya aku tidak suka hiasan dinding yang penuh kata-kata karena di luar rumah, di laptop, aku sudah cukup banyak diteror tulisan. Kebetulan rumah juga didisain gaya minimalis, walaupun sebetulnya untuk menyesuaikan budget yang minimalis. Tetapi memang seharusnya begitu, bukan?
Beberapa buku lain tentang lagom yang aku baca melulu tips berlandaskan filosofi lagom untuk menata rumah. Bagus. Beberapa bisa dicoba untuk diikuti. Tapi akan jadi seperi buku-buku tips pasaran lainnya kalau kita ngga berusaha memahami filosofinya. Dan filosofi ini yang menurutku keren.
Nanti aku akan download (beli) versi lengkap buku ini, dan mungkin beberapa lainnya, baru aku coba menulis lebih banyak.


Comments
Post a Comment