Less is More
Tulisan ini aku post di timeline facebook-ku beberapa waktu lalu. Tiba-tiba ingin menulis setelah melihat gambar kartun berjudul "The Brief History of Consumption" yang begitu saja membuat aku tidak tenang. Ironi.
Sebetulnya ini bukan pemikiran sama sekali baru. Di blog ini juga aku pernah menulis mirip-mirip. Ini proses belajarku, untuk merasa cukup dengan sedikit barang saja.
Semua yang kita beli, ujung-ujungnya akan jadi sampah!
Dengan begitu, fokusnya bukan lagi membuang sampah pada tempatnya atau memilah sampah, mendaur ulang, atau bahkan memberikan kepada 'yang membutuhkan'. Itu masalah nanti. Yang lebih penting adalah mengurangi membeli. Ini aku ngomong sendiri. Karena sungguh, ini bukan perkara mudah.
Sekitar setahun lalu, aku membaca buku Marie Kondo. Kesimpulanku dari buku itu, kalau mau rumah beres ya jangan kebanyakan barang di rumah. Metode konmari mengajarkan untuk menyimpan barang-barang yang sparks joy dan menyingkirkan sisanya. Sekalipun kemudian muncul kritik bahwa orang-orang yang melakukan konmari kemudian melepaskan tanggung jawab atas belasan karung barang tidak terpakai, membuangnya, menjadikannya sampah, tapi konmari telah mengawali prosesku mempelajari (kembali) tentang konsumerisme.
Sekitar dua puluh tahun yang lalu, sebagai mahasiswa sosiologi, aku sungguh terpukau pada pemikiran teori kritis termasuk tentang konsumerisme, kapitalisme dan teman-temannya. Tapi tidak sulit untuk menjadi idealis pada saat mahasiswa, lha wong uang saku saja terbatas. Gimana mau belanja sering-sering?
Hampir bersamaan dengan membaca konmari, aku juga membaca tentang fast fashion yang berdampak pada makin menumpuknya sampah pakaian. Dan pakaian ini, sekalipun menggunakan bahan alami, namun umumnya melalui proses yang sarat kimiawi sehingga sampahnya pun tidak ramah lingkungan. Dan yang kubaca, 95% sampah pakaian sebetulnya masih bisa dipakai atau didaur ulang.
Tiba-tiba aku ingat almarhum nenek yang sempat tinggal bersama kami saat aku kecil. Nenek punya lemari kecil seukuran kulkas di hotel yang berisi semua barang pribadinya, termasuk tentu saja minyak wangi 4711. Saat aku sedikit lebih besar, Mama bercerita bahwa ibu mertuanya itu adalah orang yang sangat sederhana. Ia hanya punya lima pasang kain jarik dan kebaya. Kalau ia mendapatkan satu yang baru, maka ia akan segera mengeluarkan satu yang lama dan memberikannya kepada orang lain sehingga jumlah pakaiannya tetap sama, 10 item. Siapa yang bisa bertahan dengan 10 item pakaian di tengah pasar yang mengatur dan menyediakan pakaian khusus untuk kita tidur, untuk mandi, untuk santai, untuk kerja, untuk sekolah, untuk musim panas, untuk musim dingin, dan seterusnya?
Aku sedang belajar untuk bisa secukupnya saja, memilih hanya yang benar-benar aku suka dan kualitas yang baik sehingga akan panjang masa pakainya. Bedanya dengan jaman kuliah dulu, aku tidak melakukannya untuk alasan idealisme melainkan alasan praktis: urusan beberes rumah dan mengurangi sampahku sendiri. Semata-mata untuk membuatku merasa lebih baik. Belum ada kontribusi apa-apa untuk kehidupan orang lain, apalagi untuk bumi.
Semua yang kita beli, ujung-ujungnya akan jadi sampah!
Dengan begitu, fokusnya bukan lagi membuang sampah pada tempatnya atau memilah sampah, mendaur ulang, atau bahkan memberikan kepada 'yang membutuhkan'. Itu masalah nanti. Yang lebih penting adalah mengurangi membeli. Ini aku ngomong sendiri. Karena sungguh, ini bukan perkara mudah.
Sekitar setahun lalu, aku membaca buku Marie Kondo. Kesimpulanku dari buku itu, kalau mau rumah beres ya jangan kebanyakan barang di rumah. Metode konmari mengajarkan untuk menyimpan barang-barang yang sparks joy dan menyingkirkan sisanya. Sekalipun kemudian muncul kritik bahwa orang-orang yang melakukan konmari kemudian melepaskan tanggung jawab atas belasan karung barang tidak terpakai, membuangnya, menjadikannya sampah, tapi konmari telah mengawali prosesku mempelajari (kembali) tentang konsumerisme.
Sekitar dua puluh tahun yang lalu, sebagai mahasiswa sosiologi, aku sungguh terpukau pada pemikiran teori kritis termasuk tentang konsumerisme, kapitalisme dan teman-temannya. Tapi tidak sulit untuk menjadi idealis pada saat mahasiswa, lha wong uang saku saja terbatas. Gimana mau belanja sering-sering?
Hampir bersamaan dengan membaca konmari, aku juga membaca tentang fast fashion yang berdampak pada makin menumpuknya sampah pakaian. Dan pakaian ini, sekalipun menggunakan bahan alami, namun umumnya melalui proses yang sarat kimiawi sehingga sampahnya pun tidak ramah lingkungan. Dan yang kubaca, 95% sampah pakaian sebetulnya masih bisa dipakai atau didaur ulang.
Tiba-tiba aku ingat almarhum nenek yang sempat tinggal bersama kami saat aku kecil. Nenek punya lemari kecil seukuran kulkas di hotel yang berisi semua barang pribadinya, termasuk tentu saja minyak wangi 4711. Saat aku sedikit lebih besar, Mama bercerita bahwa ibu mertuanya itu adalah orang yang sangat sederhana. Ia hanya punya lima pasang kain jarik dan kebaya. Kalau ia mendapatkan satu yang baru, maka ia akan segera mengeluarkan satu yang lama dan memberikannya kepada orang lain sehingga jumlah pakaiannya tetap sama, 10 item. Siapa yang bisa bertahan dengan 10 item pakaian di tengah pasar yang mengatur dan menyediakan pakaian khusus untuk kita tidur, untuk mandi, untuk santai, untuk kerja, untuk sekolah, untuk musim panas, untuk musim dingin, dan seterusnya?
Aku sedang belajar untuk bisa secukupnya saja, memilih hanya yang benar-benar aku suka dan kualitas yang baik sehingga akan panjang masa pakainya. Bedanya dengan jaman kuliah dulu, aku tidak melakukannya untuk alasan idealisme melainkan alasan praktis: urusan beberes rumah dan mengurangi sampahku sendiri. Semata-mata untuk membuatku merasa lebih baik. Belum ada kontribusi apa-apa untuk kehidupan orang lain, apalagi untuk bumi.


Comments
Post a Comment