Partner in Life
Bahwa, rumah ini milik berdua maka tanggung jawab atasnya pun berdua.
Kenyataan bahwa suamiku terlibat dalam melakukan kerja-kerja rumah tangga sungguh melegakan. Memang sih, tetap lebih banyak aku yang mengerjakan. Tetapi itu juga karena aku yang pegang komando di rumah. Aku tidak membiarkan ada hal-hal yang terjadi di rumah tanpa sepengetahuanku, misalnya ini ditaruh di sana, itu ditaruh di sini, dan sebagainya. Dan menu makan, sudah tentu urusanku, seleraku. Hahaha!
Tetapi bantuan Dodi juga tidak bisa dibilang kecil, terutama untuk hal-hal yang aku malas melakukannya seperti membersihkan halaman atau menyapu. Dodi juga kadang cuci piring, menyetrika sendiri pakaian yang akan dipakai, dan tidak keberatan diminta menanak nasi. Ia tidak pernah mencuci pakaian kami berdua seperti aku melakukannya seminggu sekali, tapi toh, pernah ada masanya aku ngga bisa mencuci, dia mengantarkan dan mengambil pakaian ke laundry.
Satu hal lagi yang aku syukuri, bahwa dia tidak perfeksionis sehingga aku tidak terbebani untuk melakukan pekerjaan rumah dengan sempurna. Justru dalam hal ini, aku lebih perfeksionis meski sebetulnya lebih pemalas.
Lucunya, kami punya gaya yang berbeda dalam membersihkan rumah. Aku lebih penuh prosedur, membersihkan sedetail-detailnya, harus begini, harus begitu, semua ada dan harus kembali pada tempatnya, dan sebagainya sehingga kadang cukup ribet karena banyak syarat. Misalnya untuk menyapu, aku merasa harus membersihkan meja dapur dulu karena pasti banyak kotoran yang bakal rontok ke lantai supaya sekalian disapu. Sebelum membersihkan dapur, artinya bak cuci piring harus bersih. Sebelum itu, harus menata piring-piring yang sudah kering ke tempatnya. Begitu panjang untuk akhirnya sampai pada menyapu, sehingga kadang-kadang sudah capek dululan sebelum semuanya selesai.
Sementara Dodi, kalau mau menyapu ya menyapu saja. Tidak peduli apa yang ada di atas lantai, semua dikukuti. Kebanyakan menyapu bagian-bagian yang terlihat kotor saja. Barang-barang diberesin asal tanpa ingat bahwa semua ada tempatnya. Pokoknya asal tidak kelihatan berantakan di mata. Maka bisa saja suatu hari aku menemukan roti yang pernah aku cari-cari dalam tumpukan tas plastik, atau tumpukan koran dicampur buku jadi terpaksa dipilah-pilah lagi, baju bersih campur baju kotor, dan banyak lagi kejutan. Tapi tentu itu tidak sebanding dengan inisiatifnya untuk membereskan rumah (meski tetep, aku suka ngomel karenanya. Hehehe...).
Kita semua tahu bahwa pekerjaan rumah tidak ada habisnya selama kita tinggal di rumah itu, tidak ada jam kerjanya seperti di kantor. Seorang teman pernah bilang banwa banyak perempuan menganggap kantor justru tempat istirahat dan bertemu teman, karena di rumah pekerjaannya lebih banyak dan melelahkan. Dan, aku juga tidak terima kalau mengurus rumah adalah pekerjaan perempuan saja. Rumah milik berdua. Kalau memang perempuan harus mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah, tentu melalui kesepakatan dan kesadaran bersama. Dengan kesadaran ini pula, kalau suami terlibat di pekerjaan rumah sebetulnya tidak ada yang istimewa karena itu memang sudah seharusnya.
Tapi aku harus bilang bahwa suamiku istimewa karena aku tahu, di luar sana banyak suami-suami yang tidak tahu pekerjaan rumah, apalagi terlibat mengerjakannya. Penuh syukur.
Kenyataan bahwa suamiku terlibat dalam melakukan kerja-kerja rumah tangga sungguh melegakan. Memang sih, tetap lebih banyak aku yang mengerjakan. Tetapi itu juga karena aku yang pegang komando di rumah. Aku tidak membiarkan ada hal-hal yang terjadi di rumah tanpa sepengetahuanku, misalnya ini ditaruh di sana, itu ditaruh di sini, dan sebagainya. Dan menu makan, sudah tentu urusanku, seleraku. Hahaha!
Tetapi bantuan Dodi juga tidak bisa dibilang kecil, terutama untuk hal-hal yang aku malas melakukannya seperti membersihkan halaman atau menyapu. Dodi juga kadang cuci piring, menyetrika sendiri pakaian yang akan dipakai, dan tidak keberatan diminta menanak nasi. Ia tidak pernah mencuci pakaian kami berdua seperti aku melakukannya seminggu sekali, tapi toh, pernah ada masanya aku ngga bisa mencuci, dia mengantarkan dan mengambil pakaian ke laundry.
Satu hal lagi yang aku syukuri, bahwa dia tidak perfeksionis sehingga aku tidak terbebani untuk melakukan pekerjaan rumah dengan sempurna. Justru dalam hal ini, aku lebih perfeksionis meski sebetulnya lebih pemalas.
Lucunya, kami punya gaya yang berbeda dalam membersihkan rumah. Aku lebih penuh prosedur, membersihkan sedetail-detailnya, harus begini, harus begitu, semua ada dan harus kembali pada tempatnya, dan sebagainya sehingga kadang cukup ribet karena banyak syarat. Misalnya untuk menyapu, aku merasa harus membersihkan meja dapur dulu karena pasti banyak kotoran yang bakal rontok ke lantai supaya sekalian disapu. Sebelum membersihkan dapur, artinya bak cuci piring harus bersih. Sebelum itu, harus menata piring-piring yang sudah kering ke tempatnya. Begitu panjang untuk akhirnya sampai pada menyapu, sehingga kadang-kadang sudah capek dululan sebelum semuanya selesai.
Sementara Dodi, kalau mau menyapu ya menyapu saja. Tidak peduli apa yang ada di atas lantai, semua dikukuti. Kebanyakan menyapu bagian-bagian yang terlihat kotor saja. Barang-barang diberesin asal tanpa ingat bahwa semua ada tempatnya. Pokoknya asal tidak kelihatan berantakan di mata. Maka bisa saja suatu hari aku menemukan roti yang pernah aku cari-cari dalam tumpukan tas plastik, atau tumpukan koran dicampur buku jadi terpaksa dipilah-pilah lagi, baju bersih campur baju kotor, dan banyak lagi kejutan. Tapi tentu itu tidak sebanding dengan inisiatifnya untuk membereskan rumah (meski tetep, aku suka ngomel karenanya. Hehehe...).
Tapi aku harus bilang bahwa suamiku istimewa karena aku tahu, di luar sana banyak suami-suami yang tidak tahu pekerjaan rumah, apalagi terlibat mengerjakannya. Penuh syukur.




Comments
Post a Comment