Laundry Day #3: Menyetrika?

Iya, pakai tanda tanya.

Aku dibesarkan di rumah yang pakaian-pakaian kami selalu disetrika. Aku beruntung, saat aku masih tinggal di rumah mama di Jogja dulu, masih ada asisten rumah tangga yang mengerjakannya. Aku cuma tahu pakaian sudah tersedia di lemari dalam keadaan terlipat rapi siap pakai.

Kemudian aku tinggal sendiri. Menyetrika menjadi pekerjaan rumah yang begitu menguras energi. Aku ingat malam tahun baru aku lewatkan dengan setumpuk pakaian untuk disetrika. Bukan dari satu trip cuci, tapi tiga kali. Melihat timbunan pakaian yang setiap minggu bertambah betul-betul membuatku merasa bersalah. Karena itu pula, lemari pakaian nyaris kosong karena hampir semua baju berada di keranjang setrikaan. Perlu waktu sekitar tiga jam untuk mengosongkan keranjang itu.

Aku bukan orang yang tahan berdiri lama. Jadi aku selalu menyetrika sambil duduk. Membuka jendela, sesekali minum atau kipas-kipas kepanasan. Begitu situasinya. Maka hal yang paling membuatku marah itu kalau Dodi suamiku ngga jadi pakai satu baju, dan bajunya ditaruh begitu saja sehingga kusut lagi. Itu bukan cuma sekali. Kadang dua kemeja dalam sekali waktu. Duh, kebayang keringetan, kepanasan, dan waktu yang tersita untuk menyetrika semua pakaian itu. Gimana engga emosi?

Kenapa harus distrika? Suatu kali seorang teman bertanya begitu. Aku ngga punya jawaban selain, ya supaya rapih pakaian yang kita pakai. Waktu itu, bahkan, aku ngomel-ngomel dalam hati, emangnya elo, bisa pakai baju kusut!

Tapi kemudian aku membaca postingan teman yang lain di facebook tentang bagaimana ia mengelola pakaiannya. Tidak disetrika, kecuali yang memang kusut dan penting. Penting maksudnya semacam kemeja yang dipakai untuk kerja, tentu penampilan rapih jadi penting. Tapi kalau hanya baju rumah, kenapa harus capek-capek menyetrikanya? Kuncinya, pakaian harus langsung dilipat begitu kering dijemur. Melipatnya pun harus bagus, rapih, supaya ngga tambah kusut.

Maka mulailah aku. Setrika menjadi pekerjaan yang dilakukan hanya sesekali, biasanya saat pagi untuk pakaian yang akan digunakan untuk pergi. Itupun hanya pakaian yang kusut. Apalagi sekarang, ada pilihan-pilihan bahan pakaian yang tidak kusut, bahkan untuk kemeja sekalipun. Kaus, daster, celana jeans, seprei, sudah pasti ngga masuk hitungan untuk disetrika. Semua bisa langsung dipakai asal itu tadi, langsung dilipat begitu selesai dijemur. Jangan dibiarkan bertumpuk. Itu yang bikin kusut.

Sudah pasti, Mama tidak sepakat mengenai hal ini. Aku beberapa kali menyampaiakan, apalagi sekarang, di rumah tidak ada lagi asisten rumah tangga atau mamak yang hanya datang untuk mencuci dan setrika. Mama yang melakukannya, bergantian dengan Karin adikku. Tapi ide ini tidak diterima. Menurutnya, pakaian dan semua yang dicuci tetap harus disetrika sebelum dipakai. Yang ngga setrika, ya pemalas namanya. Hahaha...

Padahal cara ini kuakui menghemat energi banyak sekali. Tidak hanya listrik setrikaan, tetapi juga waktu dan tenaga. Belum lagi berkurang peluang untuk marah-marah karena pakaian rapih diuntel-untel lagi. Rumah tangga lebih bahagia!

Lalu aku baca bukunya Mari Kondo yang memperkenalkan metode Konmari untuk menata rumah. Pakaian menjadi bahasan utama dalam konmari ini. Intinya pakaian jadi kusut karena kita menatanya dengan cara ditumpuk. Apalagi, cara kita mengambil pakaian di bagian bawah tumpukan sering kali bikin tumpukannya berantakan. Ini betul juga. Pakaian di paling bawah tumpukan, sudah pasti kusut berat. Konmari memberikan cara melipat pakaian yang lebih kecil dari lipatan biasa, dan menatanya secara berdiri di dalam laci.

Aku sedikit terlambat mengetahui, karena rumah kami sudah memiliki tempat penyimpanan pakaian (kalau tidak bisa disebut lemari) yang bukan berupa laci. Ouch! Tadinya aku mau akalin dengan menggunakan box-box pakaian. Jadi pakaian yang sudah dilipat lalu dimasukkan ke dalam box itu, di tata berdiri sebagaimana laci. Tapi beli box jadi PR tersendiri buat aku. Mulai dari ukurannya harus sesuai space yang tersedia, harganya, juga jumlah yang harus dibeli jatuhnya cukup banyak. Sementara aku sudah ngga sabar ingin praktek. Akhirnya diputuskan untuk mulai melipat saja pakaian-pakaian itu dengan metode konmari, lalu menatanya di rak. Hasilnya seperti di foto ini:


Meskipun tidak sepenuhnya menerapkan konmari, tapi model penataan ini sudah meminimalisir masalah pakaian kusut dan lemari berantakan. Sampai sekarang box ngga jadi kebeli. Lemari masih 75% rapi. Cukuplah buat aku.

Belakangan aku berusaha naik level dengan langsung menata pakaian ke lemari begitu pakaian sudah dilipat. Cara ini juga mengurangi sudut-sudut berantakan rumah. Alhamdulillah.

Comments

Popular Posts