Bawa Tas Belanja Sendiri

Tahukah kalian bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar kedua yang dibuang ke lautan setelah Cina? 187,2 juta ton per tahun. Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menit dan setengahnya hanya digunakan satu kali pakai, lalu dibuang.

Mengelola Kantong-kantong Plastik di rumah

Aku termasuk orang yang mengumpulkan plastik-plastik habis pakai dan menyimpannya untuk keperluan lain. Mungkin karena dari dulu melihat Mama melakukannya di rumah. Sayang memang kalau harus dibuang, apalagi kalau dapet plastik baru dari toko, biasanya kondisinya masih mulus-mulus untuk dipakai lagi. Gunanya pasti ada. Banyak hal di keseharian kita yang butuh plastik mulai dari mengemas barang-barang sampai untuk mengalasi tempat sampah. 

Setelah berumah sendiri, baru terasa bahwa keranjang tempat aku menyimpan tas plastik cepat sekali penuh sementara penggunaan plastik untuk sampah dan lainnya tidak sebanyak plastik baru yang didapat. Sementara untuk membuang kantong plastik yang baru sekali pakai, sungguh aku tidak tega. Bakal merasa bersalaaaahhh sekali. 

Aku ingat, Mama di Jogja mengumpulkan plastik-plastik berukuran kecil yang memang tidak banyak gunanya di rumah, dan membawanya kembali ke pasar. Ia memberikan kantong-kantong kecil itu ke penjual sayur. Penjual sayur di pasar dekat rumah kami menerima jasa metikin sayuran, maksudnya pembeli kangkung atau bayam misalnya, bisa meminta si penjual untuk memotong dan mengambil daun yang akan menjadi masakan. Nah, sayur yang sudah dipetikin biasanya dimasukkan ke dalam kantong kecil. Itu kenapa Mama rajin bawa kantong kecil ke tukang sayur. 

Aku?

Plastik-plastik kecil, biasanya aku pakai untuk sampah harian, atau sampah sekali masak, seperti kulit-kulit bawang, wortel, dan sebagainya, ampas kopi dan teh, sampai penuh lalu aku ikat dan buang ke tempat sampah (nanti akan aku ceritakan tersendiri bagaimana aku mengelola sampah rumah). Sementara plastik-plastik besar aku gunakan untuk mengalasi tempat sampah. Plastik-plastik besar yang lebih bagus dan tebal, misalnya dari toko pakaian, biasanya akan jadi favorit untuk packing kala traveling.

Tapi cara itu hanya untuk memanfaatkan lagi plastik di rumah, bukan untuk mengurangi. Demi melihat banyak kantong plastik bertumpuk di rumah, aku memutuskan untuk sering-sering bawa tas belanja sendiri. Mengurangi konsumsi kantong plastik. Ini jauh sebelum pemerintah bikin peraturan tentang tas plastik berbayar. 

Pengalaman di Supermarket

Sebetulnya pakai tas kain lebih enak nentengnya, selain itu juga bisa dicantolin ke pundak. Ada beberapa pengalaman di supermarket terutama sebelum ada peraturan plastik berbayar, seperti si mba' kasir yang ngga bantuin masukin barang. Mungkin dia bingung karena tidak ada di SOP-nya. Selain itu, ada supermarket yang heboh pasang poster di dekat kasir yang bilang kasih diskon Rp300,- kalau pelanggan bawa tas belanja sendiri tapi ketika aku sampai di kasir, si mba bilang belum ada barcode-nya jadi belum bisa keluar diskon. Dan harus kusebut namanya, Superindo, mba kasir sampai hari ini masih nanya, "Ibu bawa tas belanja sendiri?" yang bikin aku langsung malu ketika ngga bawa. 

Biasanya supermarket akan menempatkan belanjaan basah seperti sayur, tahu atau daging di dalam plastik terpisah. Demi irit, biasanya aku mengambil kantong dari gulungan yang gratis untuk belanjaan basah. Tetep sih, ada plastik yang terpakai, tapi setidaknya nanti bisa untuk plastik sampah. 

Eh, kita juga kadang boros ambil plastik gulungan itu karena setiap jenis sayur diplastikin sendiri, lalu ditimbang. Cabe sendiri, tomat sendiri, wortel sendiri dan selanjutnya. Kalau kita belanja lima jenis, maka kita dapet lima plastik. Lagi-lagi nyampah. Untuk menyiasatinya, biasanya aku menyerahkan ke meja timbangan tanpa plastik lalu kalau sudah ditimbang, baru dimasukkan ke satu kantong. Nanti kantong itu yang akan ditempeli banyak label. Ini efektif. 

Ohya, sebaiknya kalau pakai plastik gulungan ini, tidak usah diselotip. Cukup diikat saja, supaya mudah kalau mau membuka dan menambahkan isinya. Selain itu, selotip biasanya susah dibuka sehingga kita cenderung merobek plastiknya sehingga tidak bisa dipakai lagi. 


Tentu ada kalanya aku lupa membawa tas kain, terutama kalau belanja tanpa rencana. Kadang juga sengaja kalau persediaan plastik untuk sampah di rumah sudah menipis, maka aku nyengaja ke supermarket tanpa bawa tas. Ohya, pas masih ada kantong plastik berbayar dulu, aku selalu menolak dikasih plastik kecil karena bayarnya sama aja Rp200,- tentu aku pilih yang besar karena bisa dipakai untuk kantong sampah.

Konsumsi plastik di sekitar rumah

Baiklah, supermarket plastiknya berbayar. Tapi bagaimana dengan kantong-kantong plastik yang beredar di luar supermarket? Hasil surveyku justru bilang aku mendapatkan plastik lebih banyak di sekitar rumah dibandingkan di supermarket.

Sekarang ini, tukang gorengan, tukang bacang, tukang tahu, yang lewat di depan rumah cenderung memberikan plastik untuk wadah belanjaan kita. Belanjaan yang ngga seberapa, dan hanya beberapa langkah dari rumah lalu kita pindah ke piring untuk disajikan. Kenapa ngga bawa piring atau wadah lain ke si abang biar ngga usah mindah-mindah lagi. Biar ngga usah ketambahan plastik lagi.

Tukang sayur lebih lagi. Kalau tukang sayur keliling yang dagangannya udah di plastikin kecil-kecil, ya memang mau gimana lagi. Tapi ada tukang sayur yang pakein kantong plastik untuk setiap item belanjaan. Mirip kalau kita pakai plastik gulung di supermarket. Sejauh ini yang oke tukang sayur di dekat stasiun Citayam. Dia membungkus belanjaan kita per item dengan koran, baru semuanya dimasukkan ke dalam plastik besar. Itu kalau kita ngga bawa tas sendiri.

Aku selalu bawa tas kain khusus ke tukang sayur. Tas kain berbahan parasit sehingga mudah dicuci kalau kotor atau kena basah dari akar sayuran. Seharusnya juga bawa wadah untuk tempat ikan yang dibeli, tapi sering lupa. Mudah-mudahan besok lebih sering inget.

Tas-tas Kain

Bisa ditebak kemudian, koleksi tas kainku jadi banyak! Dari yang beli, gratisan, sampai jahit sendiri. Mau yang parasit dan bisa dilipat kecil, kain belacu, sampai kain ikea yang bagus. Terus terang, dari jaman SMA aku udah naksir tas kain model begini, sederhana dan bisa buat bawa macam-macam. Tentu kalau desainnya bagus. Desain, penting buat aku.

Ohya, tas-tas kain tisu yang suka dikasih gratis sebagai goody bag atau di toko, itu juga sampah sekalipun dalihnya mengurangi plastik. Apalagi yang ukuran kecil dan desainnya jelek jadi kemungkinan kecil bakal dipakai lagi. Lama-lama tas jenis ini numpuk juga. Jadi mendingan memang tetap menolak konsumsi dengan cara bawa tas belanja sendiri.

Comments

Popular Posts